Santri PBSB: Pengalaman Mengenalkan Pesantren pada Publik Eropa

Santri PBSB: Pengalaman Mengenalkan Pesantren pada Publik Eropa

Posted on By 1205

Namaku Dito Alif Pratama. Pengalaman tinggal di pesantren telah banyak mengenalkan saya warna-warni kehidupan. Kurang lebih separuh usia hidup telah saya habiskan di pesantren: 7 tahun nyantri di Ponpes Assalam Sukabumi dan 4 tahun di Pondok Pesantren Darunnajah Jrakah, Semarang sambil menyelesaikan studi Strata satu (S1) di UIN Walisongo Semarang dengan beasiswa PBSB Kemenag RI.

Ada banyak sekali alasan yang membuat saya sangat bersyukur pernah mengenyam pendidikan di pesantren, salah satunya tentang konsep berkah para kiai. Melalui konsep ini, saya terus diingatkan akan pentingnya menghormati kiai, guru dan tenaga pendidik lainya dan senantiasa memohon wasilah doa dari mereka untuk kita belajar dan survive dalam hidup. Bahkan, saya juga yakin bahwa berkah hidup di pesantren dan doa kiai dan guru-guru didalamnya yang telah mampu mengantarkan saya bisa merasakan nikmatnya menuntut ilmu di perguruan tinggi secara gratis, baik untuk jenjang strata S1 maupun S2, dan semoga sampai jenjang tertinggi S3 nantinya. Untuk studi S1, saya mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama RI di UIN Walisongo Semarang pada tahun 2010 melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) sebelum melanjutkan ke jenjang S2 melalui skema beasiswa 5000 Doktor (MoRA Scholarship) untuk studi di Eropa, lebih tepatnya di kampus Vrije Universiteit, Amsterdam, the Netherlands pada tahun 2016.

Salah satu bentuk manifestasi rasa syukur saya atas nikmat yang begitu luar biasa ini adalah dengan berupaya untuk terus syiar pesantren kapanpun dan di manapun saya berada, termasuk di Eropa. Hal ini sekaligus menjadi tanggung jawab saya secara moral sebagai alumnus pesantren. Salah satu upaya yang saya lakukan adalah dengan dengan mengadakan kegiatan bedah film dan diskusi ‘Jalan Dakwah Pesantren’ karya Hamzah Sahal di beberapa kota di Belanda. Saat itu, saya turut andil dalam menyiapkan acara bedah film yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pendukung Konferensi Internasional tentang ‘The Moderate Islam’ yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda pada tanggal 27-31 Maret 2017. Kegiatan diskusi dan bedah film ini diadakan di tiga tempat yang berbeda, masjid PPME Al-Ikhlash Amsterdam, kampus Vrije Universiteit Amsterdam bekerjasama dengan PPI Amsterdam, dan kampus Leiden bekerjasama dengan PPI Leiden. Tema bedah film dan diskusi saat itu adalah ‘The Role of Pesantren in Maintaining Unity and Diversity’.

Melalui acara ini, saya dan teman-teman panitia lainnya berupaya untuk mengenalkan pada publik Eropa betapa besarnya peran pesantren bagi keberadaaan dan keberagaman bangsa Indonesia. Khususnya, dalam upaya merawat dan meruwat kesatuan dan persatuan bangsa. Berbicara tentang Islam Indonesia, kita pastinya tidak akan terlepas dari Pesantren. Hal ini seyogyanya diketahui oleh masyarakat Eropa bahwa pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia, telah banyak membantu syiar Islam yang ramah khas Indonesia.

Sampai di Belanda, saya terlibat aktif dalam kegiatan dakwah Islam di salah satu masjid Indonesia di Amsterdam, bernama masjid Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Al-Ikhlash Amsterdam. Salah satu kegiatan yang saya bantu adalah kegiatan pengajian anak-anak (Tahfidz Quran) tiap Jumat sore bagi anak usia 6-16 tahun. Tidak semua anak yang mengikuti kegiatan ini asli keturunan Indonesia, tetapi juga ada beberapa anak merupakan keturunan asli Belanda dan tidak bisa berbahasa Indonesia.

Sebagaimana lazimnya kegiatan pengajian anak-anak di Indonesia, saya dan 3 orang teman lainya yang juga membantu program ini mengemas program ini dengan metode mengaji khas pesantren. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, dalam beberapa kesempatan, saya juga sambil sisipkan informasi tentang nikmatnya studi di Pesantren di Indonesia. Dengan harapan, akan ada dan semakin membanyak bule Eropa yang mau datang dan belajar langsung di pesantren. Insya’a Allah.

 

Diringkas dari buku Santri Pejuang Mimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *