Santri PBSB: Dari IPB hingga Kuliah ke Belanda

Santri PBSB: Dari IPB hingga Kuliah ke Belanda

Posted on By 2293

Namaku Ikrom Mustofa. Seorang bungsu dari 3 bersaudara, dua kakakku perempuan. Kami tinggal di Desa yang letaknya cukup jauh dari kota. Bapak dan Ibu adalah perantauan dari Yogyakarta dan sekarang menetap di sebuah desa kecil di Kabupaten Pelalawan, Riau, tempat lahirku dulu.

Aku tak pernah menyangka akan menjadi seberani saat ini. Berani berdiri di depan ribuan orang, berani berbicara di depan forum, bahkan berani menjelajah tanah-tanah baru seorang diri. Ayah selalu mengatakan bahwa sukses adalah proses, dan hasil adalah jawaban dari proses terbaik yang telah kita lakukan. Sedangkan Ibu selalu menekankan bahwa makna kesuksesan tidak hanya sekadar materi atau prestasi, namun lebih kepada bagaimana kita dapat berguna bagi sesama.

Khairunnas anfauhum linnas, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya.

Aku membuktikannya! Bismillah..

Kuinjakkan kakiku di Kota Hujan, Bogor. Aku diterima di kampus Institut Pertanian Bogor melalui jalur Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama RI pada program studi Meteorologi Terapan. Aku mulai menyusun berbagai rencana dan target setiap semester di kampus hijau ini. Melihat suasana yang sangat kompetitif, dengan kondisi diri yang berada jauh di bawah rekan-rekan satu angkatan di IPB, ini bukan saatnya ikut berjalan bersama mereka, bukan saatnya juga mencukupkan diri dengan berlari, namun harus bisa terbang untuk setidaknya bisa menyamai mereka.

Menjadi mahasiswa yang harus bisa berbeda dengan mahasiswa kebanyakan membuatku menargetkan banyak hal sejak awal masuk kuliah. Sejak awal masuk kuliah, aku tergabung dalam organisasi penerima beasiswa Kementerian Agama RI (CSSMoRA IPB), UKM Keilmiahan FORCES IPB, dan organisasi Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) IPB. Bahkan terakhir aku diamanahi sebagai wakil ketua CSSMoRA IPB sekaligus wakil direktur UKM FORCES IPB. Selain itu, berkat ketekunanku dalam berbagi bersama masyarakat, aku terpilih menjadi delegasi IPB dalam program Six University Initiative Japan Indonesia (SUIJI-SLP) 2013 di Jepang. Di sana aku dan teman-teman diajak langsung untuk berinteraksi dengan masyarakat desa-desa di Jepang yang mayoritas petani dan nelayan. Aku yakin, hidup semakin berarti ketika kita membawa kebermanfaatan bagi sesama.

Allah Menjawab Doa-doa itu..

Banyak orang yang waktu itu mendorongku untuk mengikuti seleksi Mahasiswa Berprestasi, namun bagiku itu sangat berat, melihat ketatnya persaingan di kampus IPB. Namun sekali lagi, semuanya harus dicoba, tak ada yang salah dari sebuah kegagalan karena mencoba. Akhirnya aku mengikuti serangkaian seleksi Mahasiswa Berprestasi yang dimulai dari tingkat jurusan, fakultas, Universitas. Semuanya berjalan lancar. Hingga akhirnya aku terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama tingkat IPB 2015 dan menjadi delegasi IPB dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat Nasional di Malang.

Setelah melalui proses seleksi, tiba-tiba dalam kondisi paling pesimis, namaku disebut. Tak cukup sekali, nama yang melekat pada diriku sejak dua puluh tahun lalu disebut dua kali, bahkan lebih. Dengan langkah gemetar, Aku maju ke depan podium. Tetap saja, aku tak mampu berkata-kata, pertahananku hampir pecah, air mataku tak mampu kubendung.

“Selamat Nak, semoga juara 2 Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional berkah bagimu.” Ibuku memelukku dari jauh.

(Anugerah Mahasiswa Berprestasi 2 Tingkat Nasional 2015)

Hadiah dari Allah bertubi-tubi

Aku tak pernah menyangka. Hadiah dari Allah begitu banyak. Aku sadar, kalaupun ini ujian ataupun cobaan, semoga Allah tetap menunjukkan jalan untuk selalu menguatkan aku kapanpun dan di manapun.

Tepat di akhir tahun 2015, Kementerian Agama RI melalui anugerah Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2015, mengundangku sebagai nominasi peraih penghargaan kategori santri berprestasi tingkat nasional. Aku masih ingat benar, waktu itu Pak Menteri yang secara langsung menyerahkan penghargaan pada malam apresiasi tersebut. Alhamdulillah, aku tak pernah menyangka sebelumnya. Waktu itu aku hanya berdoa semoga ini adalah kebaikan yang datangnya dari Allah. Secara pribadi, penghargaan tersebut kupersembahkan untuk Bapak Ibu di rumah yang tak pernah berhenti mendoakan keberkahan hidup anak-anaknya.

Akhir 2015, aku diizinkan lulus dari IPB yang kemudian kulanjutkan dengan melakukan kegiatan pasca kampus termasuk pengabdian alumni PBSB kemenag RI. Di sela-sela kegiatan pengabdian, aku kembali memperoleh amanah untuk melanjutkan studi master di Wageningen University, Belanda, melalui program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementerian Keuangan RI. Lewat persiapan yang sangat singkat, alhamdulillah aku lolos melalui serangkaian seleksi mulai dari pemberkasan hingga wawancara. Sejak saat itu, aku mulai disibukkan dengan persiapan keberangkatan studi di luar negeri mulai dari pemantapan bahasa hingga pendalaman materi perkuliahan.

Aku mengambil jurusan Environmental Sciences, dengan peminatan Water System and Global Change. Aku mengambil topik riset di bidang bencana hidrometeorologi, mulai dari sisi teknik bencana, hingga studi sosial bencana. Semoga Allah memudahkan.

Aku yakin, bahwa kesuksesan bukan soal dari mana kita berasal, namun dari kesungguhan dan kerja keras. Selamat menggapai mimpi buat kita semua.

 

Diringkas dari buku Santri Pejuang Mimpi

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *