PROGRAM BINA KAWASAN, CSSMORA DICANANGKAN BUAT KKN NASIONAL DI WILAYAH 3T

PROGRAM BINA KAWASAN, CSSMORA DICANANGKAN BUAT KKN NASIONAL DI WILAYAH 3T

Posted on By 1292

Bandung – Ditpdpontren, Program Bina Kawasan pada wilayah perbatasan dan wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang menjadi salah satu program unggulan Kementerian Agama sejak tahun 2017 ini bertujuan untuk menumbuhkan nilai kebangsaan dan keislaman yang rahmatan lil’alamin.

Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Ditpdpontren) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam merespon positif. Dalam hal ini Ditpdpontren memandang perlunya mengambil peran terlibat dalam program terobosan tersebut.

Salah satu yang tercetus adalah pencanangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan oleh para mahasiswa peserta Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) yang tergabung dalam sebuah wadah organisasi Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMORA).

Nantinya, CSSMORA Nasional diminta melakukan KKN di wilayah perbatasan dan 3T secara kolaboratif dari setiap jurusan dan perguruan tinggi. Mereka akan mengembangkan masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan mereka. Sekaligus juga mereka akan mengajarkan pelajaran agama Islam sebagai perwakilan dari kiprah pesantren.

Sebagaimana disampaikan Pelaksana Tugas Sekretaris Dirjen Pendidikan Islam, Imam Safe’i saat membuka acara koordinasi PBSB dengan perguruan tinggi mitra di Hotel Grand Tjokro Bandung, Rabu (28/2). Dia berpandangan bahwa mahasiswa PBSB mempunyai peluang untuk turut serta dalam program bina kawasan tersebut. Bahkan hal ini dirasa sangat memungkinkan sebagai bentuk pengabdian mereka.

“Kita harus mendorong CSSMORA untuk melakukan KKN di wilayah perbatasan dan tertinggal. Kita memiliki program di wilayah 3T. Program ini bisa disinergikan dengan program yang sudah ada”, ujar Imam yang sudah lebih dulu berperan dalam program serupa dengan mengirimkan guru pendidikan agama Islam.

Mahasiswa PBSB yang merupakan santri pondok pesantren dipercaya memiliki kemandirian, keterampilan, mampu berbaur dengan masyarakat, memiliki wawasan keagamaan (mutafaqqih fiddin), spirit bela negara yang akan mampu menghargai kemajemukan dan perbedaan sebagai upaya menjaga kerukunan umat beragama.

“Peran CSSMORA melalui KKN di wilayah perbatasan, diharap dapat menularkan pengetahuan dan teknologi, selain penerapan nilai-nilai luhur jati diri, karakter dan budaya bangsa dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral dan etika pembangunan”, tutup Imam. (Hery)

sumber: http://ditpdpontren.kemenag.go.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *