Mahasantri: Sepucuk Kisah Meraih Asa

Mahasantri: Sepucuk Kisah Meraih Asa

Posted on By 976

“Jalan hidup tak selamanya lurus, kadang terjal, penuh jurang, berkelok, bahkan mendaki. Layaknya jalan yang harus kita lewati saat ingin mencapai puncak gunung tertinggi.”

Aku tertegun melihat langit malam yang membentang tak berujung. Kerlip gemintang malam ini membuat binar mataku enggan beranjak memandangi lukisan Illahi yang anggun menawan hati. Gemintang yang bertaburan mengingatkanku akan amanah yang tersematkan di pundakku. Aku memejamkan mataku, udara sekitar kupaksa masuk penuh mengisi paru-paruku dan kubiarkan berlarian di alveolusku. Malam ini, kubiarkan pikiranku meracau membawa jiwaku menembus dimensi ruang waktu sesuka hati. Alam bawah sadarkupun membawaku pada sebuah sejarah hidupku, bertahun-tahun sebelum aku berdiri memandangi langit malam ini. **

Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad dan Sekolah Menengah Kejuruan Darul Qur’an (SMKDQ), melalui jalur Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), membawaku hingga ke tempat ini. Tanggal 4 Mei 2011 merupakan hari bersejarah bagiku, saat itu ribuan santri Nusantara berkompetisi untuk mendapatkan kursi di tigabelas perguruan tinggi negri. Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah Universitas yang saya pilih, saat itu UGM hanya menyediakan 41 kursi untuk santri seluruh Indonesia. Sejak sinar mentari pagi menyapa hingga senja kami mengikuti ujian seleksi PBSB dengan penuh kekhusyu’an. 10 jam yang sangat berharga bagi kami, merupakan waktu yang akan menjadi penentu arah jalan hidup kami selama empat tahun ke depan, bahkan sampai lulus sarjana nantinya.

Alhamdulillah ujian berjalan dengan lancar. Tes bahasa Arab dan Inggris, bakat skolastik, dan kepesantrenan mampu kuselesaikan dengan maksimal. Hanya saja aku menemui beberapa soal kemampuan IPA yang kurasa susah untuk dipecahkan. Setelah berjam-jam menghadapi soal, tak terasa tinggal 30 menit sebagai penghujung ujian. Mulut ini tak henti-hentiinya berdzikir memohon kepada-Nya agar diberikan ketenangan dan hasil yang terbaik.

Setelah ujian terlewati, hari demi hari kulalui begitu saja dengan dengan jiwa pasrah dan berdo’a penuh harapan agar selalu diberikan yang terbaik, walaupun terkadang aku juga merasa hampir tidak mungkin aku akan lolos seleksi. Sebagai lulusan SMK Multimedia, bagaimana aku bisa berharap diterima di jurusan Farmasi UGM, sedangkan hanya ada kuota dua tempat untuk santri seluruh Indonesia? Tidak mungkin aku lolos, kecuali karena pertolongan Allah.

Tak terasa sudah tiba hari yang kutunggu, dan yang juga dinanti-nantikan oleh orangtuaku dan guru-guruku, yaitu pengumuman seleksi PBSB Kementerian Agama RI. Di antara 41 nama di daftar mahasiswa mahasiswa baru yang lolos seleksi PBSB UGM, tertuliskan sebuah nama: “Annisa Ayu Afrilia R. H. L”, dengan jurusan S1 Farmasi.

Berita ini bagaikan sebuah tembakan yang mengelegar dan pelurunya merasuk ke dalam tubuh hingga mengalir dalam darah merasuk kalbu serta menyatu ke seluruh tubuh sehingga menyuruh seluruh anggota tubuh ini untuk segera mengagungkan asma-Nya dan bersujud atas nikmat besar yang telah Dia berikan padaku. Sungguh merupakan karunia-Nya yang sangat luar biasa, bahwa aku mendapat kesempatan untuk sekolah di universitas yang mutunya terjamin, bergengsi, dan metropolitan, dengan beasiswa full, bahkan dibayar setiap bulan.

Di sinilah titik awal perjuanganku, yang insyaallah akan menorehkan senyum di wajah orang-orang yang kusayangi, serta senyum kebanggaan di wajahku sendiri karena mampu membuktikan kepada masyarakat luas bahwa meskipun kita sekolah di bawah naungan pondok pesantren, namun kita tetap mampu masuk universitas-universitas favorit yang tak dapat diragukan lagi kualitasnya. Juga bahwa penguasaan IPTEK yang kita miliki tidak tertinggal jauh dengan siswa-siswa lulusan sekolah-sekolah umum yang bergengsi.

Namun aku sadar kalau bukan karena keberkahan PPDQ & SMKDQ serta berkat doa-doa para kekasih ilahi (pak kyai-ibu nyai, kedua orangtuaku, para asatidz-asatidzah dan guru-guruku yang kusayangi), tidak mungkin aku mampu berdiri tegap di tempat ini hingga saat ini. Jiwa ini bagaikan butiran debu dalam lautan mutiara. Tanpa doa mereka semua, apalah dayaku?

Dalam waktu yang cukup singkat, yaitu 6 tahun, lautan keilmuan yang kudapatkan dari sana sangatlah luas, sampai tak mampu kuungkapkan dengan tulisan maupun lisan. Keberkahan dan kemanfaatannya tak kan pernah habis termakan oleh waktu ataupun lekang oleh zaman.

Sekolah terpadu Darul Qur’an merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mengajarkan berbagai disiplin keilmuan yang saling terintegrasi dan interkoneksikan. Nilai-nilai keilmuannya disematkan dalam berbagai kegiatan rutinitas yang tanpa disadari dapat membentuk kultur dan karakter masing-masing peserta didiknya sehingga mampu mencipta pribadi yang tangguh terhadap hantaman berbagai masalah dan cobaan, gigih dalam meraih cita, ikhlas dalam beramal serta santun dalam berkata dan berperilaku.

Aku memastikan diriku dalam keadaan sadar akan hal yang pernah dijelaskan oleh salah satu ustadz, yaitu bahwa “Al Ilmu Kannuur”, ya, ilmu itu cahaya. Bukankah cahaya akan tertangkap indah jika cermin itu bersih? Begitu pula dengan ilmu yang hanya dapat memantulkan cahaya benderangnya pada seorang dengan hati yang bersih. Seperti spons yang mudah menyerap segala sesuatu yang ada di sekitarnya tak peduli sesuatu itu bersih atau kotor dan untuk membersihkannya harus diperas sekuat tenaga, begitu pula dengan hati.

Di sana kami tak hanya diajari ilmu-ilmu yang dzohir saja, namun juga ilmu kebersihan jiwa melalui ilmu-ilmu hikmah. Santri mempunyai peran serta dalam mengembangkan pondok pesantren sesuai dengan kompetensi dan kapabilitas masing-masing. Tanpa kita sadari hal ini mampu menumbuhkan daya juang yang tinggi, jiwa kemandirian, serta jiwa pengabdian tinggi yang dapat diaktualisasikan di masyarakat kelak. Sehingga lahirlah embrio-embrio pemuda bangsa yang cerdas berakal dan beramal.

Dalam menjalani prosesnya pun dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Ketika aku duduk di kelas X SMKDQ, berbagai cobaan datang silih berganti, kesehatanku mulai melemah. Kalau kecapekan atau kedinginan sedikit saja, flu tulangku langsung kambuh, kalau telat makan satu jam saja, asam lambung langsung naik, dan kalau makan cabai sedikit, thypus langsung kambuh. Tubuh ini seolah-olah sudah tidak mau diajak berjuang lagi, tiap minggu mesti cek up, namun diagnosanya tak tentu, dan obat menjadi makanan sehari-hariku.

Namun semuanya kulalui dengan penuh senyuman ikhlas, jiwa yang tenang, ketegaran hati serta optimisme. Orang yang hebat terbentuk melalui kesukaran, tantangan, serta derai airmata yang terus bercucuran. Sejarah mencatat banyak orang besar justru lahir di tengah himpitan kesulitan bukan buaian kemanjaan. Mereka besar dengan mengurangi jam tidurnya, waktu bekerja dan kesibukan mengurusi duniawi untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi. Menyedikitkan tidur malam untuk bisa bangun malam, sedikit canda untuk rasakan nikmatnya beribadah. Tak berlebihan dalam bergaul tuk rasakan lezatnya iman.

Semoga ke depan kita para santri mampu menjadi embrio-embrio calon pemimpin bangsa yang berjiwa agamis, nasionalis, prestatif, serta mempunyai kemampuan taktis dalam menyiasati permasalahan-permasalahan yang akan kita temui dalam kehidupan baru mereka pasca lulus nantinya, tanpa meninggalkan perspektif agama yang sohih. Walaupun sudah di dunia baru, namun pribadi santri tetap mengakar dalam akidah, bercabang ukhuwah dan menjulang dalam menggapai prestasi.

Jiwa kesantrian yang merasuk kalbu, mengalir ke seluruh tubuh serta dimplementasikan dalam pemikiran, perkataan dan perbuatan mampu memberikan efek positif terhadap lingkungan. Dengan jiwa nasionalisme yang tumbuh pada diri untuk meraih mimpi, membangun jati diri, dan menjadi kebanggaan bumi pertiwi, sehingga mampu menjadi tokoh yang eksklusif sejak dini. J J J **

 

“Jangan pernah sia-siakan waktu, waktu tak kan pernah kembali sedetikpun”

Tak seorangpun mampu tuk melakukan hal yang sempurna, namun setiap orang diberikan banyak kesempatan tuk melakukan hal yang benar. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan hanyalah berbuat sebaik-baiknya di setiap kesempatan yang ada. J ***

Aku, aku adalah seorang putri pengembara jati diri, aku terlahir di tanah pencakar langit sejak 20 April 1994, dari seorang ibu yang berhati salju dan ayah yang super disiplin.

 

Anisa Ayu Afrilia Rahmawati Habibatul Latifah

2 Responses

  1. Alhamdu lillah aku ikut bersukur & juga bangga atas prestasi ananda Anisa bahkan aku sp menangis membacanya. mudah2an anaku yg skrg msh belajar di PP. IMAM BUKHORI nnt bs mendpt BS ke UMMUL QURO MAKKAH S.1, S.2, & S.3 Allohumma Amiyn.

    Reply
  2. Kamu sangat beruntung dan itu patut di syukuri karena , bayangkan didaerah saya pendidikan adalah barang mewah yang tidak semua orang bisa memiliki nya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *