Mahasantri: Pasca Wisuda, Jelajah Sejarah Islam Champa di Kamboja-Vietnam

Mahasantri: Pasca Wisuda, Jelajah Sejarah Islam Champa di Kamboja-Vietnam

Posted on By 307

Peluang emas memang bisa datang kapan saja, meskipun tanpa direncanakan sebelumnya. Sebagaimana pada beberapa bulan usai wisuda karena telah menamatkan pendidikan S1 melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), saya mendapatkan kesempatan magang di luar negeri selama hampir 2 bulan pada penghujung tahun 2017.

Kamboja adalah negeri tujuan saya magang mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di negara yang berbatasan langsung dengan Thailand, Vietnam dan Myanmar itu. Atas Program Pemuda Magang Luar Negeri (PPMLN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ini, saya juga berkesempatan menelusuri sejarah perkembangan Islam Champa dan Kamboja dan Vietnam. Sebuah agama dengan pemeluk 4% di tengah-tengah masyarakat Hindu, Budha maupun Atheis.

Dalam pencarian data, saya menemui beberapa pemuda, imam masjid hingga mufti Islam di beberapa kota di Kamboja. Begitu pula ketika kota Ho Chi Minh Vietnam, saya mengunjungi beberapa masjid lalu berbincang dengan tokoh dan aktivis muslim di sana. Hasil penelusuran sejarah ini, diposting di situs NU Online (nu.or.id) yang saya tulis menjadi 9 judul tulisan. Kebetulan selama kuliah, saya juga ikut menjadi wartawan dari media resmi PBNU itu.

Kita ketahui bersama bahwa “Champa” merupakan kerajaan Islam pertama di kawasan Asia Tenggara. Hal itu yang menjadikannya berperan besar dalam proses Islamisasi di kepulauan Nusantara. Fakta sejarah ini bisa diamati dari beberapa tokoh Wali Songo yang berasal atau keturunan dari Champa. Selain juga relasi yang dibangun antarkerajaan pada saat itu.

Corak keagamaan Champa tidak jauh berbeda dengan mayoritas Muslim Indonesia, sebab mereka bermazhab Syafi’iyah. Tidak heran jika tradisi keagamaan di sana ada kesamaan, seperti perayaan Maulid Nabi, selametan, dan lain-lain.

Islam Champa berasal dari daratan China yang diyakini telah ada sejak zaman sahabat atau tabi’in. Pusat Champa ada di wilayah Vietnam Selatan (sekitar 300 KM dari Ho Chi Minh, ibu kota Vietnam Selatan). Namun sejak sekitar abad 15 muslim Champa harus meninggalkan  Vietnam kemudian diaspora ke berbagai negara seperti Kamboja, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan lain-lain.

Bagi saya, menjalani kesempatan seperti itu tidak hanya sebatas modal akademik semata, namun juga skill lain yang selama berkiprah menjadi aktivis mahasiswa. Dengan begitu, kita bisa kreatif dan survive tatkala terjun ke luar negeri.

Usai menjalankan magang dan liputan sejarah tersebut, saya sekarang melanjutkan kewajiban sebagai alumni PBSB, yakni “mengabdi” di pesantren. Besar harapan, waktu dekat ini saya bisa memperoleh kesempatan untuk melanjutkan jenjang S2 di jurusan Islamic Studies, syukur-syukur di Eropa atau Amerika. Semoga ikhtiar saya berbuah berkah dan manfaat untuk masyarakat luas. Terima kasih pesantren dan Kementerian Agama RI.

 

_*M. Zidni Nafi’*, alumni PBSB 2013 UIN Sunan Gunung Djati Bandung asal Pesantren Qudsiyyah, kab. Kudus. Ketua CSSMoRA Nasional (Organisasi Mahasiswa PBSB se-Indonesia) periode 2016-2017._

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *