Mahasantri: Menjadi Mahasiswa Teladan Mutu dan Lulusan Tercepat Terbaik

Mahasantri: Menjadi Mahasiswa Teladan Mutu dan Lulusan Tercepat Terbaik

Posted on By 1107

Namaku Khairun Nisa, penerima beasiswa PBSB tahun 2014 di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kali ini, aku akan berbagi pengalamanku dalam menjuarai berbagai event kepenulisan hingga akhirnya aku dinobatkan sebagai Mahasiswa Teladan Mutu  UIN Sunan Kalijaga tahun 2017 dan Mahasiswa Lulusan Tercepat Terbaik se-universitas pada wisuda periode II UIN Sunan Kalijaga 2018.

Sebenarnya, aku mulai menulis untuk event-event tertentu sejak April 2016. Kucoba meneliti kitab tafsir al-Kasysyaf bersama seorang temanku untuk dikirim ke acara Call for Papers dan Seminar Nasional di Purwokerto. Inilah kali pertama aku bisa mewujudkan mimpiku. Pengalaman pertama selalu berkesan. Dua minggu kemudian kucoba mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an Nasional di Surabaya bersama seorang teman. Abstrak kami termasuk 100 abstrak yang lolos semi-final. Tahap selanjutnya adalah pengumpulan paper untuk disaring 10 besar. Pengalaman pertama mengikuti LKTIQ memang berat, apalagi kami tim. Belajar berkompromi, berdiskusi dan beradu asumsi. Tentu, tidak semudah yang dibayangkan sampai akhirnya paper bisa diselesaikan. Namun, semua membuahkan hasil. Paper kami masuk list 10 besar dan diundang mempresentasikan di UIN Sunan Ampel Surabaya. Alhamdulillah, kebahagian tidak bertepi menyapa. Nama kami dipanggil sebagai juara pertama saat itu. Lelah selama dua minggu terbayarkan saat itu juga.

Setelah dua event tersebut, aku mulai merasakan ketagihan. Aku mulai aktif menulis setelah itu. Berjuang menggapai mimpi-mimpi yang pernah terlintas di benakku. Berusaha menjadi gadis desa yang mampu menginspirasi teman-teman di kampung halaman. Membuka telinga yang selama ini terkubur asumsi-asumsi negatif tentang perempuan. Menurutku, perempuan harus berpendidikan, perempuan harus berprestasi, perempuan harus bisa bersaing. Jangan sampai hanya karena kamu perempuan lantas menjadi alasan untuk tidak berkembang layaknya kebanyakan laki-laki. Menjadi perempuan artinya menjadi sosok yang istimewa, kamulah nantinya yang akan mendidik generasi-generasi penerus bangsa dan kelak menjadi pendamping yang hebat untuk laki-laki yang akan menemani setiap langkah kehidupanmu.

“Abah, Nisa keterima di konferensi internasional, Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) .” Ucapku saat telpon terhubung ke sosok super hero di seberang pulau sana.

“Konferensi itu apa, Nak?” Tanya abahku.

Ada perasaan terharu ketika mendengar pertanyaan beliau. Kujelaskan secara rinci seluk beluk konferensi sampai beliau paham. Walaupun abahku bukan dosen ataupun kalangan akademisi, beliau selalu mendukung apapun yang kulakukan. Support itulah yang mampu menguatkanku di saat-saat sulit perjuangan yang harus kulalui.

AICIS 2016 diadakan di Bandar Lampung, merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi mahasiswa S1 bisa bergabung di konferensi internasional nomor satu di Indonesia terkait Studi Islam. Paperku masuk kategori selected paper yang berarti semua akomodasi ditanggung oleh Kemenag. Padahal, aku hanya bermodal nekat dan tidak berpikir untuk lolos mengingat pendaftar yang berjumlah ribuan orang. Namun, aku tersadar bahwa mencoba adalah tahap awal untuk meniti kesuksesan. Sebagai manusia sejatinya kita diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin, setelah itu tawakalkan semua kepada Yang Kuasa. Ingat, Tuhan tidak akan menyia-nyiakan usaha yang kamu lakukan.

 

Menjadi presenter termuda membuatku banyak belajar dari para expert.

“Mbak, udah S3 ya?” tanya seorang bapak yang ternyata merupakan dosen di salah satu universitas Islam.

“Nggak Pak, masih S1 semester 5.” jawabku.

“Loh, kok bisa lulus? Padahal dosen aja belum tentu lulus.” Kata beliau.

Kuperhatikan wajah beliau yang penuh tanda tanya. Aku hanya tersenyum mendengar tanggapan Bapak tersebut. Ada satu kalimat yang kuingat “Bukan yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh”. Kalian pasti tahu quote tersebut.

AICIS mengajarkanku arti sebuah usaha. Semua mungkin saja terjadi. Lupakan kastamu, lupakan statusmu. Kamu hanya perlu mencoba. Inilah yang selalu kutanamkan di jiwa. Setahun terakhir, ada beberapa kompetisi yang kujuarai, di antaranya juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an Nasional (LKTIQN) di Surabaya, juara 2 LKTIN “Islam dan Perdamaian” di Kediri, juara 1 LKTIQ se-PTKI di Cirebon, juara 1 LKTIQN di Jakarta, Juara 3 Essay Yogya-Jateng di Yogyakarta dan Juara 2 Musabaqah Makalah Al-Qur’an Pekan Ilmiah Olahraga dan Seni (PIONIR) se-PTKIN di Banda Aceh. Di samping itu, aku juga aktif menjadi speaker di beberapa konferensi dan call for papers, antaranya Borneo Undergraduate Academic Forum di Pontianak, AICIS di Bandar Lampung, call for papers di UNNES, IAIN Salatiga, STAISPA dan IAIN Purwokerto.   Namun, ada satu prinsip yang selalu kupegang, “Bagaimanapun sibuknya, kuliah tetap nomor 1”. Sehingga tidak ada alasan karena ikut berbagai event lantas kuliah terabaikan. Kesemua pencapaian tersebut mengantarkanku menjadi Mahasiswa Teladan Mutu UIN Sunan Kalijaga tahun 2017 dan Mahasiswa Lulusan Tercepat Terbaik se-universitas pada wisuda periode II UIN Sunan Kalijaga 2018. Saat ini aku sedang mempersiapkan diri untuk meraih beasiswa S2 ke luar negeri. Mohon doanya ya.

 

Diringkas dari buku Santri Pejuang Mimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *