HADIRI MUNAS CSSMoRA IX, BASNANG “SANTRI ASET UTAMA NEGERI”

HADIRI MUNAS CSSMoRA IX, BASNANG “SANTRI ASET UTAMA NEGERI”

Posted on By 157

MALANG – Pagi ini, Sabtu (14/04) tepat pukul 08:15 WIB, Kasubdit PD Pontren, Drs. Basnang Said, M. Ag, hadir dalam rangkaian Musyawarah Nasional (MUNAS) CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) ke IX. Setelah dihabiskan satu hari untuk membahas AD-ART CSSMoRA pada hari Rabu (13/04) kemarin, rangkaian acara Munas ini masih dilanjutkan dengan berbagai macam kegiatan. Salah satu dari kegiatan tersebut yakni silaturrahmi sekaligus diskusi dari Drs. Basnang Said, M. Ag, bersama perwakilan pengurus CSSMoRA se-Indonesia. Momen ini sangat istimewa, selain kehadiran seluruh perguruan tinggi mitra Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di Kota Batu, Malang. Acara ini bertambah istimewa dengan adanya forum silaturrahmi dan diskusi skala nasional ini.

Penting sekali adanya pertemuan dan tatap muka sebab komunikasi jarak jauh via media sosial selama ini mungkin belum cukup melepas rindu dan mengungkapkan isi hati yang masih terpendam selama ini. Tatap muka membuat emosi kita menjadi lebih erat dan lebih dekat dalam keterikatan kekeluargaan namun terpisah jarak.

Seumpama seorang ayah bagi anaknya, dan seperti kiyai kepada santrinya, dan sebagai seorang kepala untuk yang dibawahinya, Drs. Basnang Said, M. Ag, menyampaikan begitu banyak wejangan serta nasihat yang membuat ikatan emosional menjadi lebih dekat serta memiliki nilai manfaat jika dapat kita serap.

“Indonesia bukanlah negara Islam, akan tetapi Indonesia sarat akan nilai-nilai Islam. Indonesia bukanlah daar al-islam (negara yang berasaskan politik-politik Islam), namun Indonesia adalah daarussalam (negara yang penuh akan kedamaian)”, tutur alumni PP As’adiyah dalam diskusi tadi.

Hadir sebagai negara yang penuh akan kedamaian, penting sekali akan keberperanan santri dalam menjaga kedamaian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Santri yang terbiasa tunduk dan patuh pada nasehat kiyai di pesantren, membuat santri lebih terbiasa patuh terhadap peraturan perintah selaku pemimpin yang memang wajib untuk dipatuhi. Untuk itu tidak akan ada perilaku bughah yang pada akhirnya justru memecah-belah NKRI. Dalam keberagaman dan keberagamaan, tidak dapat dipungkiri jika Indonesia memang pluralitas. Melebihi dari itu, semestinya pun tidak boleh kita pungkiri jika Indonesia dilahirkan beragam adalah untuk saling menghargai dan saling menghormati. Perkenalan hadir dari adanya perbedaan. Perbedaan membuat kita unik dan istimewa dibandingkan yang lainnya. Maka semestinya perbedaan ditanggapi dengan baik untuk melahirkan perdamaian. Yang mengetahui segala nilai-nilai keislaman yang seperti itu, tidak lain dan tidak bukan adalah dari Santri sendiri.

Menjawab tantangan zaman, generasi masa kini lebih didominasi oleh generasi millenial. Untuk menyambut Bonus Demografi pada tahun 2030, Kementrian Agama berencana akan terus menggenjot potensi-potensi santri, dengan rencana akan membuka tambahan jurusan untuk PBSB yang nantinya dinilai mampu berdaya guna dan memiliki daya saing untuk masa yang akan datang, sebagai contoh Pak Drs. Basnang Said, M. Ag, berucap “melihat dari luasnya daerah laut di Indonesia, kemungkinan dinilai perlu jika kita menggagas prodi kelautan untuk salah satu pilihan jurusan di PBSB nantinya, mengingat karena luat pun merupakan awal utama dari poros peradaban manusia”.

Santri itu istimewa, memiliki ilmu namun tetap menjunjung tata krama. Pesantren yang hadir sebagai arus pertama dari pendidikan karakter di Indonesia, seyogyanya dicontoh untuk meng-upgrade nilai etika dan moralitas manusia.

Dalam diskusi ini, Drs. Basnang Said, M. Ag, juga menyampaikan beberapa pesannya untuk CSSMoRA; Pesan beliau agar santri CSSMoRA juga mampu mewarnai kehidupan kampus dengan menjadikan kampus sebagai laboratorium kepemimpinan di masa yang akan datang. Dilanjutkan dengan peningkatan program-program kerja CSSMoRA, yakni komunikasi koordinasi, penerbitan majalah santri, serta kegiatan yang berimplikasi pada wong cilik dan masyarakat sekitar. Tidak lupa, menanamkan nilai-nilai kepesantrenan dimanapun berada sebagai identitas seorang santri.

(Indah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *